Berdamai dengan Bipolar: Upaya Mencintai Diri Sendiri dengan Belajar Menyerahkan Semuanya Kepada Tuhan
Sebuah cerita tentang perjalanan menjalani terapi, memperkuat ibadah, menghadapi pemicu dari orang terdekat, dan belajar mengendalikan diri untuk hidup lebih sehat dan bahagia.
Hai readers,
Akhirnya update lagi di blog berdebu ini. Kali ini dengan cerita yang begitu personal. Jika selama ini saya tidak pernah menuliskan sedikit saja tentang kesehatan mental saya, hari ini saya memutuskan sedikit berbagi di sini. Insyaallah, semoga menjadi salah satu cerita yang memberi kebaikan.
Bermula dari sebuah pesan whatsapp dari seseorang:
Yang pasti, kamu hebat Mbak! Sudah berani bertanya. Saya yakin Allah akan memberikan kemudahan kepadamu, aamiin.
Saya jawab di sini ya Mbak xxx. Jika ingin bertanya lagi, boleh lanjut di whatsapp 🤗.
Berobat dan Berani Bercerita
Wa'alaikumsalam,
Penyakit saya gak bisa sembuh mbak. Hanya bisa dikendalikan. Saya Bipolar. Jujur saya tidak tahu kalau untuk anxiety. Tapi kalau saya, alhamdulillah jauh lebih baik setelah rutin berobat ke dokter.
Yang saya rasakan, curhat sama dokter itu meringankan beban. Dan ternyata bisa juga curhat ke orang lain yang harus wajib dapat dipercaya dan tahu cara mendengarkan dan menanggapi yang benar.
Ketika Orang Terdekat justru Menjadi Pemicu
Dokter selalu menyarankan untuk kembalikan kepada Allah. Karena problem saya, toxic peaple pemicu saya adalah orang terdekat dan serumah. Sama sekali tidak bisa dihindari. Maka dokter menyarankan untuk perkuat ibadah, dalam artian menyerahkan semua permasalahan kepada Allah, benar-benar pasrah ya Allah, mohon bantu aku untuk kuat dan bahagia. Pasrah yang yakin, bahwa meminta pada Allah adalah jalan terbaik karena Allah lah yang punya kuasa membolak-balikkan hati manusia. Entah itu hati orang-orang di dekat kita, maupun hati kita sendiri.
Tapi dengan catatan, tetap konsumsi obat sesuai resep dokter. Pada kasus saya, obat yang diberikan dua macam, obat anti depresi dan obat membantu tidur, karena saya mengalami kesulitan tidur.
Menemukan Cara untuk Menjaga Diri Tetap Sehat dan Bahagia
Dari apa yang saya jalani setelah terapi, saya yakinkan diri saya harus sehat untuk diri sendiri dan anak-anak. Saya coba juga terapi mandiri dengan berkebun. Ini juga sangat membantu memberi ketenangan buat saya.
Pelan-pelan saya mengenali diri sendiri. Mulai bisa menerima ketetapan Tuhan, bahwa seumur hidup saya harus 'berteman' dengan Bipolar. Saya mulai yakin, Tuhan selalu memberikan yang terbaik meski hal itu seperti yang terburuk. Saya mulai paham, bahwa sesungguhnya yang harus saya lakukan adalah MENCINTAI DIRI SENDIRI.
Saya lakukan apa yang membuat saya bahagia, tentu hal positif karena sebagai muslim semua perbuatan akan dipertanggung jawabkan (saya buka usaha, saya upgrade skill, saya habiskan beberapa waktu tertentu benar-benar untuk diri sendiri).
Saya juga berusaha mengenali kebutuhan diri sendiri, kapan saya harus makan, kapan harus tidur, kapan saya butuh healing. Saya mulai terbuka dan tidak memendam apa yang menjadi pikiran dan beban hati saya. Kalau selama ini saya diam, sekarang saya pilih bicara. Saya tidak peduli orang akan mengerti atau menganggap lebay apa yang saya bicarakan, saya juga belajar tidak peduli dengan tanggapan positif maupun negatif dari mereka, karena prinsipnya saya tidak bisa mengontrol hati, sikap dan kelakuan orang lain, tapi saya bisa--harus bisa-- memegang kendali atas diri sendiri.
Saya tidak peduli apa yang dilakukan toxic people yang menyakiti saya, saya hanya fokus menemukan bahagia. Jika selama ini dia abai pada perasaan saya, saya juga ternyata bisa abai pada apa yang ia lakukan, sehingga dengan ajaib semua ucap dan tingkahnya tak lagi menjadi pemicu luka saya. Allahuakbar!
Beberapa kali saya terus mengonsumsi obat dari dokter. Jujur tidak secara rutin, hanya ketika saya merasa benar-benar butuh. Karena obat yang saya konsumsi memberi efek lesu dan mengantuk terus, meskipun dosis sudah dikurangi seperti saran dokter. Sebagai ibu rumah tangga yang masih punya dua balita, saya tidak bisa abai pada kebutuhan mereka: melakukan pekerjaan rumah.
Tapi semua sangat membantu. Bertemu dokter, identifikasi penyakit saya sehingga tahu apa yang harus saya lakukan saat kambuh, memperkuat ibadah dengan kepasrahan tinggi, karena kita hanyalah makhluk yang tak ada daya upaya kecuali atas izin Tuhan, berusaha membahagiakan diri sendiri, termasuk berani memprioritaskan kebutuhan dan keinginan diri sendiri di atas orang lain.
Alhamdulillah, Allah memperbaiki semuanya. Memperbaiki pola pikir saya supaya lebih kuat dan bahagia, memperbaiki fisik saya dengan kesehatan yang baik, bahkan Allah membalikkan hati orang-orang toxic di sekitar saya menjadi mengerti keadaan saya. Bahkan kini balik mendukung kestabilan mental saya.
Saya Tidak Memilih Penyakit Ini, Tapi Saya Memilih Cara Menjalaninya
Saya tahu saya akan selamanya bersama penyakit ini. Tapi saya lebih fokus kepada cara mengatasinya dari pada berlarut-larut menyesalinya. Allah maha segalanya, maka mintalah apapun pada-Nya meskipun itu sebuah kemustahilan.
Peluk jauh dan semangat sehat ya untuk kalian yang sama-sama penyintas seperti saya 🤗.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan baik dan bijak. Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak 🤗