Derisafriani.com - Lifestyle and Mom Blogger

Derisafriani.com mengulas tentang keseharian sebagai ibu, mencakup parenting, tips menulis, tips blog, kecantikan, makanan, buku, dan review produk.

Cara agar Anak Mau Curhat kepada Orang Tua

13 komentar

Agar anak mau curhat kepada orang tua

Beberapa hari lalu saya tergelitik dengan postingan salah satu teman di facebook. Pertanyaan sederhana yang dilontarkannya, tak sesederhana jawabannya. Ia bertanya: Bagaimana cara agar anak mau curhat kepada orang tuanya? Saya langsung berhenti skrol dan ikut berpikir, HOW?

Curhat adalah menceritakan sesuatu yang bersifat pribadi kepada orang terdekat (KBBI). Baik kepada orang tua, saudara, maupun teman. Karena sifatnya pribadi, bisa jadi bagi anak akan sulit untuk melakukannya.

Mengapa curhat diperlukan?

Ada beberapa manfaat curhat. Jangankan bagi anak, buat kita orang dewasa, curhat menjadi salah satu kebutuhan. Dengan curhat kita bisa merasakan kelegaan. Dengan curhat kita bisa mencari solusi bahkan bantuan atas problem yang sedang dialami. Dengan curhat kita bisa merasa tidak sendiri dalam menempuh perjalanan kehidupan.

Untuk anak, curhat bahkan dapat menjadi sarana mendapat ilmu dan nasihat. Mereka berkesempatan untuk merasakan perhatian dan kasih sayang kita orang tuanya, secara langsung. Sangat disayangkan jika momen ini jarang terjadi.

Bagi saya, sebagai ibu dengan lima orang anak (13, 11, 9, 3 dan 1 tahun). Masalah curhat ini menjadi salah satu prioritas dalam proses mendidik mereka. Saya harus tahu kehidupan, perasaan dan permasalahan yang mereka hadapi. Sebab, dalam banyak kasus, problem mereka adalah problem saya. Orang tua harus turun tangan ikut menyelesaikan. Apa lagi jika berkenaan dengan orang lain.

Saya tidak mungkin tahu semua apa yang mereka alami, karena saya tidak selalu berada di dekat mereka. Entah itu di sekolah atau saat mereka bermain di luar rumah. Dengan kebiasaan curhat, saya jadi tahu apa yang mereka alami, apa yang mereka suka dan tak suka, dan lain sebagainya.

Apa anak-anak saya mau curhat pada saya? Bisa dibilang, ya. Mereka mau bercerita apa saja yang mereka alami di luar rumah kepada saya. Dari tiga anak yang sudah besar, semuanya mau bercerita. Tentu dengan versi mereka masing-masing.

Hati-hati, jangan sampai anak memilih orang yang salah untuk curhat. Apa lagi jika sampai memilih curhat online. Lalu bagaimana cara agar anak mau curhat kepada orang tua? 

1. Biasakan sejak kecil

Ajari anak sedini mungkin untuk mau 'bicara'. Tidak harus dengan kata-kata bagi anak yang belum bisa berbicara. Maksudnya misal anak masih usia 1 atau 2 tahun. Mereka belum bisa mengucap banyak kosakata. Maka ajarkan mereka berekspresi. Jika tidak suka, menjauh. Jika ingin, mendekat dan sebagainya.

Anak kedua dan ketiga saya, jika pulang sekolah, pasti berebut bercerita. Ada saja laporan mereka tentang kegiatan di sekolah. Kadang mereka tak melihat apa yang sedang saya lakukakan sangking semangatnya curhat. Dan saya selalu berusaha siap mendengarkan dan merespon mereka.

Pada prinsipnya kita sebagai orang tua harus sering berkomunikasi dengan anak. Sehingga terjadi kontak fisik dan psikologis dalam banyak waktu. Dengan begitu, kelak akan lebih mudah bagi anak curhat pada kita.

2. Memancing pembicaraan

Meski anak sulung saya biasa bercerita apa saja tentang pengalamannya. Acap kali sesuatu yang buruk, yang akan membuat saya emosi, atau hal yang tak mengenakan hatinya, berusaha ia tutupi. Disinilah saya harus berusaha memancing pembicaraan agar dia mau curhat.

Biasanya saya awali dengan pertanyaan-pertanyaan ringan. Hingga kadang anak keceplosan, menyebut klue masalah yang ia tutupi. Ini adalah kesempatan terbaik mengorek informasi lebih dalam.

3. Menghargai privasi anak

Dalam banyak hal, saya tetap memberikan privasi jika dia masih belum mau terbuka. Karena pasti ada pertimbangan yang memberatkannya untuk curhat. Hanya saja, saya berusaha menebak apa persoalan yang ia simpan tersebut. Kemudian meluruskan saja obrolan dengan nasihat-nasihat yang mungkin mengena pada masalahnya. Tanpa harus menunggu anak bercerita dulu.

Saat memberi masukan kepada anak, paling utama adalah mengingatkannya untuk curhat kepada Allah SWT.

4. Siapkan banyak waktu luang

Curhat adalah kegiatan yang membutuhkan cukup banyak waktu. Tentu menguras energi dan emosi pula. Oleh karenanya, ketika anak ingin curhat, tinggalkan semua kegiatan dan fokus padanya. Dengan begitu ia merasa kita selalu ada untuknya. Kitalah orang pertama yang siap merangkulnya.

5. Banyaklah mendengar bukan berbicara

Cara agar anak mau curhat

Kecendrungan orang tua terhadap anak adalah menggurui dan memberikan perintah. Hal ini harus dihindari jika ingin anak mau curhat kepada orang tua. Mereka bercerita tentu ingin solusi. Bukan didikte apa lagi disalahkan.

Posisikan diri kita sebagai anak kita saat itu. Pikirkan apa yang ia rasakan. Sehingga kita mampu bersikap benar dan memberikan kenyamanan bagi anak.

Cukup dengarkan ia dengan baik. Jangan potong pembicaraannya. Minta izin dulu jika ingin memberi masukan. Sehingga orang tua lebih banyak mendengar, barulah bisa berbicara pada anak. Dengan begitu perkataan kita pun akan mudah diterima.

Jika anak diam, bukan berarti orang tua harus diam saja. Berusahalah menjadi teman curhat yang nyaman baginya. Karena masalah yang dipendam, tak akan mendapatkan solusi.

Semoga bermanfaat.

Related Posts

13 komentar

  1. Siappp mba.
    Tipsnya mantuul.
    InsyaAllah saya praktekin.
    Karena anak remaja saya sekarang jg rada sulit dipancing buat crita
    Kudu diajakin kulineran dulu 😁

    BalasHapus
  2. Setuju orangtua mesti berusaha menjadi teman curhat yang nyaman bagi anaknya..
    Meski makin besar anak makin banyak tantangannya. Anak saya 18 tahun dan 13 tahun. Si kakak makin jarang curhat si adik masih oke sih, jadi beneran PR ini perihal curhat

    BalasHapus
  3. Memang sekarang sebagai orangtua kita harus bisa menjadi tempat curhat anak ya Mbak. Dan kita perlu berlatih menjadi pendengar bagi anak.

    BalasHapus
  4. Makasih banyak buat tipsnya Mbak, susah susah gampang memang memancing anak buat curhat. Apalagi klo anak sudah semakin besar.

    BalasHapus
  5. Bagi saya masih sulit dan masih berikhtiar mencoba mereka untuk curhat kepada emaknya . Masya Allah jadi bh tercerahkan

    BalasHapus
  6. Makasih tipsnya ya mba derisa... penting banget sih ini, biar kita bisa jadi sahabat anak.

    BalasHapus
  7. Iya penting banget anak suka curhat sama orang tua
    Semua itu harus dibiasakan sejak kecil ya mbak
    Dan dengan menjadi teman yang asik buat anak

    BalasHapus
  8. Hal-hal yang sangat penting untuk dibagikan. Dulu komunikasi ortu-anak satu arah. Anak tak boleh mengungkap perasaan dan pendapat. Sekarang justru harus dua arah. Lebih bahaya kalau anak curhat ke orang yang salah dan malah terjerumus ke hal tidak baik. Setuju dengan poin-poin di artikel ini.

    BalasHapus
  9. Ini sama kayak kasusku sih ga pernah bisa curhat ke orang tua. Soalnya dulu pernah curhat sekali tapi malah dimarahi, padahal ga butuh dimarahi, cuma butuh didengarkan aja

    BalasHapus
  10. Kecenderungan orangtua memberi perintah langsung tanpa mengajak anak untuk berpikir atau berdiskusi terlebih dulu memang perlu sekali dikurangi ya Mbak. Terlebih lagi anak-anak sekarang semakin kritis. Memang menjadi orang tua yang "asyik" tapi tetap dalam batasannya itu tantangan tersendiri.

    BalasHapus
  11. Ini sih yg aku rasain sebagai anak, masih kurang komunikasi jd.y nggak malas curhat jg.

    BalasHapus
  12. sepakat banget, kak..
    Anak-anak zaman sekarang sungguh karakter yang kritis serta melek teknologi. Jadi bisa jadi mereka lebih nyaman curhat sama temen virtual, misalnya..

    Semoga dengan bonding yang dibangun orangtua sejak kecil, anak-anak lebih percaya dan nyaman dengan orangtuanya daripada sama teman.

    BalasHapus
  13. Saya udah masuk fase dimana anak sudah memilih untuk banyak enggak curhat kayak jaman kecilnya dulu, mbak. Fase ini bisa jadi muncul, bisa juga enggak. Mungkin karena kedua anak saya yg udah remaja ini sejak SMP mondok dan mandiri ya, jadi yang dicurhatin enggak banyak. Seringnya curhat soal uang saku habis sih hehehehe...

    BalasHapus

Posting Komentar