Tags

Random Posts

randomposts

Recent Posts

recentposts

Wajib Rapid Test: Demi untuk Kebaikan Bersama

12 komentar


Merasa keberatan harus Rapid Test, akhirnya suami memutuskan tak jadi rawat inap.


Cerita sebelumnya: Wajib Rapid Test: Calon Pasien Rawat Inap Ragu


Keesokan harinya, suami mengajak untuk berkonsultasi langsung ke dr. Anak terlebih dahulu. Saya sendiri sangat yakin kalau putri kami pasti harus dirawat. Namun suami mencoba mencari penguatan dengan saran langsung dari dr. Spesialis anak.


Sebenarnya saat di UGD, saya mendengar dokter jaga berkonsultasi secara daring dengan dr. Anak. Salah satu perawat bahkan meminta izin memfoto ruam merah yang dialami putri kami.


Sudah pukul 11 siang, ketika kami duduk antri ke dokter spesialis anak di Rumah Sakit yang sama. Jika sebelumnya kami menggunakan BPJS dengan langsung ke UGD, kali ini suami rela mengeluarkan uang cash demi untuk berkonsultasi melalui jalur umum.


Salah seorang perawat khusus klinik anak melihat keadaan putri saya yang cukup memprihatinkan. Meski kami seharusnya nomor antri ke sekian, atas inisiatifnya, kami didahulukan.


Suhu badan 39,2°C. Dokter langsung memeriksa dengan seksama. Lalu diputuskan untuk rawat inap. Kembali melalui jalur UGD agar bisa menggunakan BPJS, akhirnya suami bersedia si kecil menjalani tes Rapid sebelum penentuan kamar.


Berikut beberapa alasan diwajibkannya tes Rapid bagi calon pasien rawat inap:

1. Sebagai langkah preventif penyebaran virus Covid 19.

2. Sebagai dasar penetapan kamar rawat inap. Jika positif, maka harus ditempatkan di ruang khusus (ruang isolasi).

3. Sebagai dasar penentu tindakan terbaik terhadap pemulihan pasien.


Tes Rapid yang dilakukan pada putri kami, melalui cek darah. Setelah menyatakan bersedia, putri kami langsung diinfus dan diambil darahnya. Dengan rasa gugup sekaligus doa yang tak henti, saya dan suami berharap hasil tes Rapid negatif.


Satu jam yang mencekam. Tapi saya sudah cukup lega, karena putri kami sudah diinfus. Selama menantikan hasil, ada dua pasien baru masuk UGD juga. Keduanya dari luar kota.


Yang satu karena stroke dan dibawa oleh keluarganya. Dan yang satu lagi serangan jantung, dibawa oleh ambulan dari Rumah sakit daerah asalnya, sekitar tiga jam perjalanan dari sini.


Setelah sesi tanya jawab usai, keduanya diputuskan untuk rawat inap. Dan dilema mulai terjadi. Ketika petugas UGD menjelaskan prosedur wajib tes Rapid. Saya dengar keluarga pasien stroke menelepon keluarganya menanyakan tentang syarat wajib tersebut.


Lama mereka mengobrol. Sama-sama bimbang. Bimbang karena kata-kata ISOLASI yang harus dijalani sebagai konsekuensinya.


Keluarga yang terkena serangan jantung lebih miris lagi. Sang bapak yang sakit, hanya ditemani istrinya saja ke RS ini. Tampak si istri langsung mengurus berkas pendaftaran. Ketika dia meminta izin menemui suaminya, drama terjadi.


Dari rumah sakit daerah, hasil tes Rapid si pasien positif. Ketika dirujuk ke rumah sakit ini, dia langsung masuk ruang isolasi dan akan menjalani tes Swab. Sang istri sempat marah dan tak terima. Ia bingung harus bagaimana. Menginap di mana? siapa yang mengurus suaminya? dan ya, wajar saja bingung. Merawat suami yang sakit, itu seharusnya yang terjadi. Bukan dipisahkan dan tak bisa melihat sedikitpun.


Petugas IGD lalu menjelaskan ulang. Surat perjanjian yang berisi poin-poin prosedur pasien positif Rapid test dibacakan ulang. Karena ternyata si istri menanda tanganinya di atas materai, tanpa membacanya terlebih dahulu.


Baca juga: 3 Makananan sehat, untuk menjaga daya tahan tubuh. Mana yang paling kamu suka?


Pihak rumah sakit siap mengembalikan pasien, jika tidak bersedia mengikuti prosedur. Akhirnya sang istri meminta memberikan handphone kepada suaminya, kemudian ia menanyakan bagaimana pendapat suaminya.


Saya mendengar suaminya menyetujui prosedur tersebut. Dengan segala risiko, sang istri harus rela menunggu di luar tanpa berinteraksi dengan suaminya. Pihak rumah sakit menyediakan tempat menunggu sebenarnya, tapi untuk tiga sampai lima hari, saya rasa akan sangat tidak nyaman bagi si istri menginap di RS. Kalau saya tidak salah tebak, ia juga dalam keadaan hamil besar.


Semoga saja dipermudah Tuhan segala urusan pasien-pasien yang berjuang sehat. Aamiin.


Dari pengalaman ini, saya dapat menyimpulkan beberapa hal sebelum memutuskan berobat ke Rumah sakit:

1. Siap untuk menjalani tes Rapid dengan segala konsekuensinya. Termasuk jika, harus membayar untuk tes ini.

2. Percayakan segala tindakan kesehatan kepada tim medis. Yakinlah, mereka pun akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan kita.

3. Patuhi protokol kesehatan! Ini penting sekali. Bahkan di beberapa rumah sakit rujukan Covid 19, ada tempat-tempat yang dinyatakan sebagai zona merah.

4. Siapkan dana cadanan. Kadang ada saja kebutuhan mendadak yang  tak disangka. Terutama untuk makan dan akomodasi.

5. Baca dan pahami surat perjanjian, surat pemberitahuan sebelum ditanda tangani.

6. Siapkan mental dan keinginan untuk sehat di dalam hati. Jangan berputus asa.


Saya sangat bersyukur, hasil Tes  Rapid putri kami, negatif. Rasanya lega sekali.

So, jangan ragu berobat ya. Jangan takut karena harus Rapid Test. Jangan sampai terlambat dan berujung penyesalan.


Related Posts

12 komentar

  1. Bener banget, demi keamanan bersama mending rapid dlu kalau mau mengunjungi tempat atau bertemu dengan orang lain asing..

    BalasHapus
  2. Betul sekali, utk kesehatan jangan ragu untuk melakukan skrinning dan check kesehatan selengkap mungkin..

    BalasHapus
  3. Pertama, berarti harus pikir positif ya. Demi kebaikan bersama, tdk apa2 untuk memeriksakan diri ke RS jika sakit. Rapid atau swab sendiri juga seharusnya tidak masalah. Lebih baik malah karena bisa tertangani lebih cepat jika hasilnya positif.

    BalasHapus
  4. Duh, sedih pas baca cerita tentang suami istri itu. Biasanya dekat rumah sakit ada hotel atau rumah kos. Jadi sebelum pandemi, anak teman saya sakit sehingga harus rawat inap dan masuk ruang inkubator. Anaknya masih bayi. Lalu teman saya ini, sang ibu, akhirnya menginap di hotel kecil persis belakang rumah sakit. Untungnya di belakang RS tersebut banyak menyediakan hotel kecil dan rumah kos untuk keluarga pasien.

    BalasHapus
  5. sakit apa mbak anaknya? semoga Allah sembuhkan ya.. memang sekarang semua faskes ketar ketir karena covid. kemarin ada almarhum tetangga yang sakit jantung jg diperseulit harus swab dulu baru bisa masuk RS, akhirnya diputer2 ke faskes 1 dulu lah trus dioper2 karena ugd dan icu jg pada penuh. qodarulloh beliau meninggal setelah beberapa hari dirawat karena jantung, karena negatif covid

    BalasHapus
  6. Selama pandemi saya 2X nganter suami berobat ke rumah sakit. Enggak sampai diminta rapid test sih, hanya sebatas skrining saat melakukan registrasi. Semoga pandemi ini segera berlalu ya.. dan semoga kita semua dikasih nikmat sehat senantiasa.

    BalasHapus
  7. Semoga lekas sembuh ya mbak putrinya. Memang begitulah prosedurnya kalau mau rawat inap ya, rapid tes dulu. Kadang2 sebagai pasien kita merasa gimana gitu, khawatir sendiri. Tapi bener kata mbak Deris, pihak rumah sakit pasti tahu yang terbaik buat pasiennya, jadi lebih amannya memang nurut aja deh, biar prosesnya juga lebih mudah, lancar dan segera tertangani.

    BalasHapus
  8. Kondisinya emang masih harus gini sih ya, mau ga mau ya harus bersedia untuk rapid test demi mendapatkan hasil yang akurat.

    BalasHapus
  9. Putrinya Mbak Deris sakit apa? Semoga sekarang sudah sembuh yaaa. Sekarang ke rumah sakit memang harus siap dengan konsekuensinya, termasuk isolasi jika hasil tes rapid positif.

    BalasHapus
  10. Sakit apa mbak deris putrinya? Semoga diberi kesembuhan. Iya suami saya pun rapid test untuk keperluan keluar kota beberapa bulan belakangan ini..alhamdulillah negatif

    BalasHapus
  11. Rasanya pedih dan berat yaa, kak..
    Ketika salah satu dinyatakan positif dan harus dirawat.
    Ya Allah,
    Semoga Allah lindungi kita semua dari wabah ini.

    BalasHapus
  12. Dengan keadaan seperti ini memng protokol kesehatan harus diutamakan ya mbak. Apa lagi di RS, tempat orang sakit.
    Apa lagi tes rapid, walaupun katanya tidak begitu akurat akan tetapi harus dilakukan untuk jaga-jaga diri sendiri maupun juga orang lain
    Semoga putri mbak Deris sehat selalu :)

    BalasHapus

Posting Komentar


Forum Lingkar Pena Palembang

Kumpulan Emak-emak Blogger

Blogger Palembang Kumpul

Follow by Email